Terlalu sederhana bila orang yang melaksanakan jamaah hanya mencari
keutamaan 27 derajatnya. Harusnya makna jamaah itu jauh berlipat ganda
luasnya dibandingkan hanya sekadar menempa angka 27 derajat.
Semestinya, jamaah adalah sebuah ritual ibadah yang akan mengajari aktornya mengontrol emosi, berkomitmen kepada 'pimpinan', kepatuhan (manut) kepada pemandu, kepekaan sosial, membuang sifat egoisme, serta yang tak kalah penting adalah melatih kesabaran. Kesabaran menanti imam baca ayat-ayat alQuran, kesabaran menanti imam ruku, dan serangkaian kesabaran lainnya.
Sedari dulu, telah massal kita singgah di 'tempat ibadah' yang ada di pusat-pusat perbelanjaan, di pom bensin, hingga masjid-masjid di bahu jalan raya. Di sana, kita tak jarang menemui orang yang melakukan salat sendirian di shaf paling samping paling belakang, sedangkan di depannya ada barisan manusia yang sedang berjamaah -atau mungkin malah kita adalah salah satu pelakunya-. Itu adalah indikasi orang yang 'belum mampu' menahan egoisme dirinya dan kesabarannya. (Hanya indikasi, bukan menghakimi/menjustifikasi hingga menilai ini itu).
Dan akhirnya, sekali lagi disampaikan, bahwa jamaah itu tak hanya ritual mengejar angka 27 derajat, tapi ia adalah sebuah guru yang akan mendidik kita lebih 'manut', peka, dan sabar dalam kehidupan bersosial.
Semoga bermanfaat dan dapat diamalkan. Mohon koreksi bila salah.
Ahmad Islahul Umam
