Breaking News
Loading...

Kegelisahan Mahasiswa Karena Sulitnya Mencari Kerja

Oleh: Prof. Dr. Imam Suprayogo (Rektor Pertama UIN Malang)
9 September 2014 pukul 22:40


Beberapa  mahasiswa, bakda maghrib,  datang ke rumah. Saya tidak mengenal nama mereka satu persatu. Siapapun saya persilahkan masuk, mungkin ada sesuatu yang penting dibicarakan. Dulu,  waktu saya masih menjadi rektor, jarang sekali ada  mahasiswa datang ke rumah. Sebaliknya, setelah tidak memimpin perguruan tinggi lagi, justru  ada saja yang datang berganti-ganti.

Biasanya mahasiswa datang ke rumah ngajak berdiskusi informal,  atau mau meminta saya  supaya mengisi ceramah dalam kegiatan yang akan diselenggarakan. Asalkan  tidak ada  kegiatan yang sudah terjadwal sebelumnya, saya selalu penuhi permintaan itu. Saya juga senang berkumpul dan bisa memenuhi harapan mahasiswa, sekalipun sekedar diminta berceramah.

Beberapa mahasiswa yang datang pada suatu malam  tersebut, bukan mau mengundang berdiskusi atau ceramah, melainkan hanya sekedar curhat.  Setelah berbicara panjang lebar,  saya  tangkap,  pembicaraan itu hanya menunjukkan adanya kegelisahan untuk  mendapatkan pekerjaan tatkala  mereka kelak lulus. Tampak dari pembicaraan mereka itu bahwa,  mencari pekerjaan yang diinginkan itu dirasakan sebagai sesuatu yang amat sulit diperoleh.

Persoalan yang dirasakan berat itu,  justru saya respon dengan cara  yang amat sederhana. Yaitu, saya berikan cerita tentang pengalaman saya ketika sedang di Jakarta. Suatu saat,  tatkala sedang naik taksi, saya lihat di pinggir jalan ada komedi monyet.  Menyaksikan tontonan sederhana itu,  saya kemudian minta diturunkan, dan  setelah saya bayar ongkosnya, kendaraan umum dimaksud, saya persilahkan pergi, meninggalkan saya. Saya turun dari taksi, hanya akan melihat komidi monyet.

Saya kisahkan kepada mahasiswa yang datang ke rumah itu, bahwa saya suka sekali melihat komidi monyet,  dan bahkan yang lebih  menarik  lagi  bagi saya adalah, bagaimana pemiliknya melatih monyet-monyet itu,  hingga mereka terampil memainkan berbagai jenis kegiatan yang dikomando oleh pemiliknya. Saya menanyakan,  berapa lama waktu yang digunakan untuk melatih monyet hingga memiliki ketrampilan yang menarik itu. Ternyata dijawab, bahwa hanya dalam  waktu dua bulan saja, monyet itu sudah pintar memikul beban, naik sepeda, bermain igrang, dan lain-lain.

Apa yang saya lihat itu, saya ceritakan kepada mahasiswa, bahwa monyet hanya diajar selama dua bulan  sudah mampu bekerja untuk mencari nafkah. Bahkan hasil kerjanya tidak saja untuk memenuhi kebutuhan  monyet yang bersangkutan, tetapi juga untuk pemilik atau pelatihnya. Hebat benar monyet itu. Saya katakan, bahwa monyet yang hanya dilatih selama dua bulan saja sudah bisa bekerja, namun  mengapa,  kita bersekolah dan kuliah bertahun-tahun,   masih merasa susah dan belum mendapatkan gambaran yang jelas tentang pekerjaan di masa  mendatang.     

Tentu,  saya tidak akan mengatakan, kita kalah dari monyet. Sama sekali tidak. Namun demikian, -------memang benar, banyak orang sudah tamat SD, SMP, SMA, S1, S2 dan bahkan S3 sekalipun,  ternyata masih merasa sulit memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya.  Bertahun-tahun mereka sekolah,  bukan malah merasa bahwa masa depannya semakin jelas,  tetapi justru sebaliknya, semakin gelap.

Akhirnya, saya katakan bahwa,  jangan-jangan ada sesuatu yang salah dari cara belajar kita selama ini. Tatkala bersekolah,  pikiran kita bukan tertuju pada upaya agar mengenal dan memahami berbagai potensi lingkungan, diri sendiri,   orang lain, Tuhannya,   dan melatih skil yang sekiranya dibutuhkan  di masa  depan, tetapi sekedar untuk mendapatkan  sertifikat atau ijazah. Manakala hal sederhana itu saja salah, -------sekalipun sudah sekolah bertahun-tahun, maka akan  tetap saja bingung, dan akan kalah dibanding monyet yang bermain komidi. Binatang itu hanya belajar selama dua bulan saja sudah bisa menghidupi dirinya sendiri,  dan bahkan juga pemilik atau gurunya.  Wallahu a’lam.
 
Toggle Footer