Kenangan adalah pesona dengan topeng kepiluan dan airmata.
Saya mengalaminya, nyata namun hampa.
Membincangkan tokoh memang tidaklah mudah. Selalu tersisa kenangan yang minta tiarap dari palung memori, dan itu merupakan hal yang lumrah, apalagi tokoh yang diperbincangkan adalah ia yang memiliki andil di berbagai lapisan individu maupun kolektif.
Kiai Sahal, sebagai seorang tokoh yang diperbincangkan, mendapat porsi yang bervariatif. Di sini, wacana menjadi sangat kompleks. Ruang demi ruang kehidupannya diurai panjang lebar dan dari sudut pandang yang
bermacam-macam.
Kiai Sahal adalah obyek. Obyek bisa diibaratkan dengan apa saja sepanjang kaitannya masih koheren. Dikala sebuah obyek diperbincangkan, subyek berperan aktif dalam pengobyekan obyek. Satu sisi yang paling riskan adalah cara pandang subyek terhadap obyek. Di sini fenomenologi terpancang di atas tanah antara subyek dan obyek.
Satu contoh yang kongkrit; air adalah sebuah obyek material. Ia bisa menjadi air bukan hanya karena sudut pandang dari subyek yang memandang bahwa ia adalah air, tetapi korelasi antar obyek yang berdesak-desakan. Obyek material mengharuskan air dipandang sebagai air, namun kita mengetahui ada obyek formal yang menentukan air dipandang sebagai hanya air atau tidak. Ketika banjir bandang menerjang, air, yang semula hanya dipandang air, beranjak menemui subyek aktif yang menamai air sebagai hal yang merusak. Lain halnya lagi jika air ditarik ke dalam sudut pandang orang yang dahaga.
Saya mendapati betapa banyak sudut pandang dalam membaca satu tokoh laiknya Kiai Sahal. Sudut pandang ini adalah refleksi dari kenangan dan latar belakang. Kenangan adalah realitas yang dipangku oleh dua elemen penting; rasionalisme dan empirisme. Sedari masa mempertemukan realitas-subyek dengan realitas-obyek, sedari itulah pengaktifan kenangan berlangsung entah sampai kapan.
Adakalanya refleksi kenangan ini menjadi ciri dan cara pandang subyek terhadap obyek. Adakalanya latar belakang—baik teologis maupun kulturalis, memainkan peran sebagai hakim atas kenangan.
Refleksi kenangan atas tokoh, dalam hal ini Kiai Sahal, saya temukan bertebaran di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Di hari wafatnya Kiai Sahal, bertebaran kenangan-kenangan dalam bentuk visual maupun auto-visual. Kenangan itu tersusun menjadi mozaik yang utuh. Mozaik ini diharapkan menjadi titik tolak dari realisasi kenangan berupa peran aktif dari subyek dalam aksi yang nyata.
Seiring hari berlalu, kenangan terus meledak dan membentuk suatu hamparan pelajaran. Salah seorang teman, menyindir dalam jejaring sosial mengenai euforia kenangan ini, mereka (para pembincang obyek) ia anggap terlalu larut memperbincangkan obyek tanpa berusaha menjadi seperti sang obyek. Terdapat setidaknya dua kekeliaruan atas sindirannya terhadap para pembincang obyek. Pertama, ia tidak menyadari bahwa mereka sedang dalam rangka mengumpulkan visi sebelum misi yang lebih lanjut. Kedua, menyusun kenangan bukan berarti berlarut-larut dalam bayang-bayang kebesaran obyek. Obyek tetap menjadi obyek yang diperbincangkan dan reproduksi makna tetap berlanjut sebagai aktualisasi pola kenangan dalam diri subyek.
Saya juga menemui seorang subyek yang memandang obyek dengan pandangan yang negatif. Hal ini dikembalikan lagi kepada sudut pandang dan latar belakang. Adakalanya, komunikasi antar subyek-obyek tidak bersinambung dan berkesuaian dengan realitas. Bisa jadi, pandangan negatif terhadap obyek dipengaruhi oleh intensitas kenangan yang tidak memadai, atau disebabkan oleh latar belakang ideologis yang membabi buta sehingga fungsi kenangan tereliminasi oleh subyektifitas yang tanpa dasar dan terlalu mendominasi.
Betapapun negatifnya, hal tersebut di atas sah-sah saja. Mengingat akan keintiman hubungan subyek-obyek, yang di sana mempengaruhi cara pandang terhadap obyek.
Selalu ada kenangan yang dilatar-belakangi perspektif. Kiai Sahal telah diperbincangkan oleh ribuan subyek dan dengan ribuan sudut pandang. Dengan begitu, nilai pluralitas menjadi sesuatu yang dihargai sepanjang tidak adanya subyek palsu yang memandang obyek dengan mata satu.
Bagi saya, Kiai Sahal adalah sebuah ladang yang bisa ditanami apa saja. Kini, tinggal apa yang akan kita tanam di sana dan bagaimana kita menanamnya. Barangkali memang benar, “Santri tidak boleh miskin”. Miskin materi, miskin kehormatan, maupun miskin ilmu. Sebab Kiai Sahal telah menyediakan ladang untuk kita agar tidak termasuk golongan orang-orang yang miskin.
Kairo, 2014.
Oleh. M. Syamsul Arifin Demak
Saya mengalaminya, nyata namun hampa.
Membincangkan tokoh memang tidaklah mudah. Selalu tersisa kenangan yang minta tiarap dari palung memori, dan itu merupakan hal yang lumrah, apalagi tokoh yang diperbincangkan adalah ia yang memiliki andil di berbagai lapisan individu maupun kolektif.
Kiai Sahal, sebagai seorang tokoh yang diperbincangkan, mendapat porsi yang bervariatif. Di sini, wacana menjadi sangat kompleks. Ruang demi ruang kehidupannya diurai panjang lebar dan dari sudut pandang yang
bermacam-macam.
Kiai Sahal adalah obyek. Obyek bisa diibaratkan dengan apa saja sepanjang kaitannya masih koheren. Dikala sebuah obyek diperbincangkan, subyek berperan aktif dalam pengobyekan obyek. Satu sisi yang paling riskan adalah cara pandang subyek terhadap obyek. Di sini fenomenologi terpancang di atas tanah antara subyek dan obyek.
Satu contoh yang kongkrit; air adalah sebuah obyek material. Ia bisa menjadi air bukan hanya karena sudut pandang dari subyek yang memandang bahwa ia adalah air, tetapi korelasi antar obyek yang berdesak-desakan. Obyek material mengharuskan air dipandang sebagai air, namun kita mengetahui ada obyek formal yang menentukan air dipandang sebagai hanya air atau tidak. Ketika banjir bandang menerjang, air, yang semula hanya dipandang air, beranjak menemui subyek aktif yang menamai air sebagai hal yang merusak. Lain halnya lagi jika air ditarik ke dalam sudut pandang orang yang dahaga.
Saya mendapati betapa banyak sudut pandang dalam membaca satu tokoh laiknya Kiai Sahal. Sudut pandang ini adalah refleksi dari kenangan dan latar belakang. Kenangan adalah realitas yang dipangku oleh dua elemen penting; rasionalisme dan empirisme. Sedari masa mempertemukan realitas-subyek dengan realitas-obyek, sedari itulah pengaktifan kenangan berlangsung entah sampai kapan.
Adakalanya refleksi kenangan ini menjadi ciri dan cara pandang subyek terhadap obyek. Adakalanya latar belakang—baik teologis maupun kulturalis, memainkan peran sebagai hakim atas kenangan.
Refleksi kenangan atas tokoh, dalam hal ini Kiai Sahal, saya temukan bertebaran di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Di hari wafatnya Kiai Sahal, bertebaran kenangan-kenangan dalam bentuk visual maupun auto-visual. Kenangan itu tersusun menjadi mozaik yang utuh. Mozaik ini diharapkan menjadi titik tolak dari realisasi kenangan berupa peran aktif dari subyek dalam aksi yang nyata.
Seiring hari berlalu, kenangan terus meledak dan membentuk suatu hamparan pelajaran. Salah seorang teman, menyindir dalam jejaring sosial mengenai euforia kenangan ini, mereka (para pembincang obyek) ia anggap terlalu larut memperbincangkan obyek tanpa berusaha menjadi seperti sang obyek. Terdapat setidaknya dua kekeliaruan atas sindirannya terhadap para pembincang obyek. Pertama, ia tidak menyadari bahwa mereka sedang dalam rangka mengumpulkan visi sebelum misi yang lebih lanjut. Kedua, menyusun kenangan bukan berarti berlarut-larut dalam bayang-bayang kebesaran obyek. Obyek tetap menjadi obyek yang diperbincangkan dan reproduksi makna tetap berlanjut sebagai aktualisasi pola kenangan dalam diri subyek.
Saya juga menemui seorang subyek yang memandang obyek dengan pandangan yang negatif. Hal ini dikembalikan lagi kepada sudut pandang dan latar belakang. Adakalanya, komunikasi antar subyek-obyek tidak bersinambung dan berkesuaian dengan realitas. Bisa jadi, pandangan negatif terhadap obyek dipengaruhi oleh intensitas kenangan yang tidak memadai, atau disebabkan oleh latar belakang ideologis yang membabi buta sehingga fungsi kenangan tereliminasi oleh subyektifitas yang tanpa dasar dan terlalu mendominasi.
Betapapun negatifnya, hal tersebut di atas sah-sah saja. Mengingat akan keintiman hubungan subyek-obyek, yang di sana mempengaruhi cara pandang terhadap obyek.
Selalu ada kenangan yang dilatar-belakangi perspektif. Kiai Sahal telah diperbincangkan oleh ribuan subyek dan dengan ribuan sudut pandang. Dengan begitu, nilai pluralitas menjadi sesuatu yang dihargai sepanjang tidak adanya subyek palsu yang memandang obyek dengan mata satu.
Bagi saya, Kiai Sahal adalah sebuah ladang yang bisa ditanami apa saja. Kini, tinggal apa yang akan kita tanam di sana dan bagaimana kita menanamnya. Barangkali memang benar, “Santri tidak boleh miskin”. Miskin materi, miskin kehormatan, maupun miskin ilmu. Sebab Kiai Sahal telah menyediakan ladang untuk kita agar tidak termasuk golongan orang-orang yang miskin.
Kairo, 2014.
Oleh. M. Syamsul Arifin Demak